Parallel Loop mulai dengan benih 6,6 juta dolar untuk menyambung AI ke sistem perusahaan Asia
Parallel Loop resmi beroperasi dengan pendanaan benih 6,6 juta dolar AS yang dijangkar 3one4 Capital, bersama Picus Capital, Flourish Ventures, dan sejumlah investor perorangan termasuk pendiri Paytm Vijay Shekhar Sharma. Perusahaan berbadan hukum di Singapura dan Amerika Serikat, dengan tim di Singapura, Bengaluru, Bangkok, London, dan Dubai. Kliennya diklaim lebih dari 10 perusahaan, termasuk Licious, Havells, dan Tokio Marine Safety Insurance Thailand.
Parallel Loop resmi berdiri pada 15 Oktober 2026 dengan pendanaan benih 6,6 juta dolar AS. Putaran itu dijangkar 3one4 Capital, dengan partisipasi Picus Capital, Flourish Ventures, Economic Development Innovations Singapore, pendiri sekaligus CEO Paytm Vijay Shekhar Sharma, pendiri CRED Kunal Shah, dan Philip Yeo yang pernah memimpin Economic Development Board serta A*STAR Singapura. Perusahaan berbadan hukum di Singapura dan Amerika Serikat. Tidak ada nilai valuasi yang diungkap dalam pemberitaan maupun pengumuman resmi.
Model bisnisnya bukan menjual perangkat lunak lepas, melainkan menggabungkan platform AI dengan insinyur yang duduk bersama tim klien untuk menanamkan AI ke sistem, alur kerja, dan proses bisnis yang sudah berjalan. Cakupannya meliputi penyusunan strategi AI, pengembangan perangkat lunak, sampai modernisasi sistem warisan yang masih dipakai banyak perusahaan besar di Asia. Timnya tersebar di Singapura, Bengaluru, Bangkok, London, dan Dubai, dan perusahaan mengklaim sudah melayani lebih dari 10 klien, termasuk platform daging dan makanan laut India Licious, pembuat peralatan listrik Havells, dan Tokio Marine Safety Insurance di Thailand.
Dua pendirinya, Prateek Jogani dan Yujun Chean, bukan nama baru di ekosistem regional. Keduanya sebelumnya mendirikan perusahaan asuransi teknologi Thailand, FairDee, yang diakuisisi platform insurtech regional Qoala; setelah itu Jogani menjabat group chief technology officer dan Chean group chief operating officer di Qoala. Latar belakang itu menjelaskan mengapa produknya dijual sebagai pekerjaan integrasi, bukan sebagai alat uji coba: masalah yang dibidik adalah jarak antara alat AI yang dipakai satu tim dan proses perusahaan yang tersebar di banyak sistem.
Konteks pasarnya tidak ringan. DealStreetAsia mencatat startup di Asia Tenggara hanya mengumpulkan 112,13 juta dolar AS dari 32 kesepakatan ekuitas pada September 2026, turun tajam setelah penguatan pada Agustus. Di tengah pendanaan yang seret, model penempatan insinyur di sisi klien justru mendapat tempat karena pendapatannya berbasis proyek dan kontrak berulang, bukan pertumbuhan pengguna. Bagi penyedia jasa agen dan otomasi di Indonesia, termasuk layanan agen pelanggan untuk bank, pendekatan ini pesaing langsung: klien korporat membeli hasil kerja terukur, bukan lisensi per kursi, dan itu menekan harga jual jasa sejenis.
Fakta, angka, nama, dan kutipan dalam naskah ini telah dicocokkan dengan sumber-sumber di atas. Naskah ditulis ulang oleh redaksi, bukan salinan. Laporkan kesalahan