Unit Kling milik Kuaishou tutup putaran 19,8 miliar yuan, sekitar 2,98 miliar dolar
Kuaishou Technology mengumumkan pada Jumat, 30 Oktober 2026, bahwa unitnya Beijing Kling menyelesaikan putaran pendanaan sekitar 19,8 miliar yuan atau setara 2,98 miliar dolar. Kuaishou tetap memegang dua pertiga ekuitas dan 52,45 persen hak suara melalui kendaraan holding Lucky Labs. Putaran ini menyusul penggalangan 2,8 miliar dolar pada Juli 2026 saat Kling dihargai 15 miliar dolar pra-uang.
Kuaishou Technology menyatakan pada Jumat, 30 Oktober 2026, bahwa unitnya Beijing Kling telah menyelesaikan putaran pendanaan sekitar 19,8 miliar yuan, atau setara 2,98 miliar dolar dengan kurs 6,66 yuan per dolar yang dicantumkan Reuters. Setelah putaran ini, Kuaishou tetap menguasai dua pertiga ekuitas dan 52,45 persen hak suara di pembuat Kling AI melalui kendaraan holding Lucky Labs. Perusahaan tidak mengungkap bagaimana dana akan dipakai, dan juga tidak menyebutkan valuasi pasca-uang putaran terbaru secara eksplisit.
Angka itu datang hanya beberapa bulan setelah penggalangan 2,8 miliar dolar pada Juli 2026, ketika Kling dihargai 15 miliar dolar pra-uang dengan investor antara lain Alibaba dan Tencent. Reuters mencatat bahwa investor baru pada putaran terbaru meliputi unit Kingdee International yang menanam 300 juta yuan, Gongqingcheng Junke dengan 200 juta yuan, serta unit perusahaan tercatat Shanghai MetaX yang menambahkan 100 juta yuan. Ketiganya mengambil sebagian komitmen investor lain dan memperoleh hak penebusan, mekanisme yang lazim ketika komposisi modal lama perlu dirapikan sebelum perusahaan melangkah ke pasar publik.
Kling bersaing langsung dengan model pembangkit video milik OpenAI, Google, dan ByteDance, pemilik TikTok. Menurut laporan Bloomberg News yang dikutip Reuters awal Oktober, Kling menyiapkan penawaran umum perdana pada tahun depan. Struktur kepemilikan yang dijaga di atas dua pertiga ekuitas memberi Kuaishou kendali penuh atas arah perusahaan, sementara sisa saham dibagikan kepada investor yang ingin ikut menikmati pertumbuhan permintaan video sintetis di pasar Tiongkok dan luar negeri.
Bagi pasar Indonesia, putaran sebesar ini menandakan bahwa kapasitas pembangkitan video bergerak menjadi aset infrastruktur, bukan fitur tambahan. Penyedia layanan video generatif lokal umumnya membeli kapasitas dari model pihak ketiga, sehingga besaran modal yang beredar di tingkat produsen model akan menentukan harga grosir API yang akhirnya sampai ke pengguna akhir. Ketika pemain seperti Kling memperoleh miliaran dolar untuk memperluas kapasitas, tekanan harga ke bawah biasanya menyusul enam sampai dua belas bulan kemudian, dan itu peluang bagi layanan konversi video maupun produksi konten otomatis di dalam negeri.
Fakta, angka, nama, dan kutipan dalam naskah ini telah dicocokkan dengan sumber-sumber di atas. Naskah ditulis ulang oleh redaksi, bukan salinan. Laporkan kesalahan