Character.AI bangkrut, Disney serap mayoritas karyawannya
Setelah Character.AI mengajukan perlindungan kebangkrutan, Disney setuju menawarkan pekerjaan kepada sedikitnya 60 karyawan Character.AI, mayoritas dari total tenaga kerjanya, dengan estimasi kompensasi tahunan 60 juta dolar. Disney juga sebelumnya sepakat membeli sebagian aset perusahaan itu sebesar 20 juta dolar. Dokumen pengadilan menyebut Character.AI terhambat biaya tinggi serta potensi kewajiban litigasi dan urusan regulasi.
Character.AI mengajukan perlindungan kebangkrutan pada pekan yang sama, dan pada 18 Oktober 2026 Disney setuju menyerap sebagian besar tenaga kerjanya. TechCrunch mengutip dokumen pengadilan yang ditemukan Bloomberg: Disney akan menawarkan pekerjaan kepada sedikitnya 60 karyawan Character.AI, yang merupakan mayoritas dari total tenaga kerja perusahaan tersebut, dengan estimasi kompensasi tahunan sekitar 60 juta dolar. Menurut dokumen itu, sebagian besar karyawan yang menerima tawaran telah menyetujuinya.
Disney sebelumnya sudah sepakat membeli sebagian aset Character.AI sebesar 20 juta dolar. Tawaran itu berstatus stalking horse bid, yaitu penawaran pembuka dalam proses lelang aset di pengadilan, sehingga perusahaan lain masih dapat mengajukan tawaran yang lebih tinggi. Mantan CEO Character.AI, Karandeep Anand, kini menjabat sebagai CTO pertama di Disney, jalur yang menjelaskan mengapa perpindahan karyawan berjalan cepat.
Dokumen pengadilan menyebut Character.AI memiliki basis pengguna yang besar dan aktif, tetapi terhambat biaya tinggi serta potensi kewajiban terkait litigasi dan keterlibatan dengan regulator. Perusahaan itu digugat oleh ibu seorang remaja berusia 14 tahun yang menyatakan anaknya terobsesi pada salah satu chatbot sebelum meninggal, dan juga menghadapi penyelidikan pemerintah terkait keselamatan anak. Kombinasi biaya komputasi, biaya hukum, dan ketidakpastian regulasi itulah yang membuat model bisnisnya tidak lagi dapat dipertahankan.
Bagi industri, ini adalah kebangkrutan besar pertama di segmen chatbot konsumen berbasis model bahasa. Nilainya penting bukan karena teknologinya gagal, tetapi karena struktur biayanya tidak seimbang: produk yang menarik banyak pengguna gratis menghasilkan biaya inferensi harian, sementara pendapatan langganan tidak cukup menutup biaya hukum yang meningkat. Pembeli aset pun akhirnya lebih menghargai tim dan data daripada platformnya, terlihat dari harga aset 20 juta dolar dibandingkan valuasi perusahaan pada masa jayanya.
Pelajaran untuk pembangun produk AI di Indonesia cukup konkret. Pertama, hitung biaya per percakapan, bukan biaya per pengguna, lalu bandingkan dengan pendapatan per percakapan. Kedua, siapkan anggaran untuk kepatuhan dan penanganan keluhan sejak awal, terutama pada produk yang berinteraksi dengan anak atau kelompok rentan. Ketiga, jangan menganggap pertumbuhan pengguna sebagai pengganti margin. Karakter chatbot yang menghibur bisa merebut perhatian, tetapi tanpa batas biaya dan tata kelola risiko, perhatian itu berubah menjadi kewajiban.
Sumber asli
TechCrunch, 18 Oktober 2026techcrunch.comFakta, angka, nama, dan kutipan dalam naskah ini telah dicocokkan dengan sumber-sumber di atas. Naskah ditulis ulang oleh redaksi, bukan salinan. Laporkan kesalahan