Lewati ke isi

Edisi harian · terbit setiap pagi

Berita AI pilihan, ditulis ulang dalam bahasa Indonesia, setiap pagi.

Kirim tips
Terkini
Budaya AI

Wamendiktisaintek: Indonesia Teratas Pakai AI untuk Pendidikan, Berpikir Kritis Jadi Taruhan

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memperingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan di pendidikan bisa menggerus kemampuan berpikir peserta didik. Data Statista Consumer Insights yang ia sampaikan di forum High Level Talk FEKDI-IFSE menempatkan Indonesia di posisi teratas dunia untuk penggunaan AI di bidang pendidikan. Menurutnya AI harus jadi alat bantu belajar, bukan jalan pintas yang menggantikan proses berpikir.

Bagikan WhatsApp X LinkedIn Telegram Email
Ilustrasi rubrik Budaya AI: Wamendiktisaintek: Indonesia Teratas Pakai AI untuk Pendidikan, Berpikir Kritis Jadi Taruhan
Ilustrasi: Jekardah AI News, dibuat otomatis sesuai rubrik.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan peringatan soal penggunaan kecerdasan buatan di dunia pendidikan pada forum High Level Talk FEKDI-IFSE di Jakarta, dan pernyataannya diberitakan Garuda TV pada 28 September 2026. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat pelajar dan mahasiswa meninggalkan proses berpikir dalam menyelesaikan persoalan, karena kemampuan memahami proses di balik sebuah jawaban tetap dibutuhkan agar manusia tidak sekadar menerima keluaran teknologi.

Data yang ia bawa ke forum itu adalah angka Statista Consumer Insights yang menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam pemanfaatan AI untuk pendidikan. Posisi itu bukan pencapaian yang bisa dibanggakan begitu saja. Stella menyebut data dan bukti menunjukkan penggunaan AI dalam pelajaran dapat menurunkan kemampuan, dan karena itu pola pemakaiannya perlu dibatasi dengan jelas. Persoalannya bukan seberapa sering AI dipakai, melainkan apakah teknologi itu dipakai untuk memahami materi atau untuk melewati proses memahami.

Menurutnya, AI masih sangat berguna untuk mencari informasi, memahami materi, dan menyusun tugas. Persoalan muncul ketika AI dipakai sebagai jalan pintas. Peserta didik yang terbiasa menerima jawaban tanpa memahami bagaimana jawaban itu diperoleh akan kehilangan latihan menganalisis dan menyelesaikan persoalan sendiri. Kemampuan mengevaluasi keluaran AI karena itu disebutnya tidak bisa ditinggalkan, karena pengguna tetap perlu punya pemahaman yang cukup untuk menilai apakah informasi atau jawaban yang dihasilkan teknologi itu layak dipakai atau tidak.

Solusi yang ia tawarkan menyangkut insentif, bukan sekadar larangan. Stella menyatakan sistem insentif harus dibangun dengan benar, dan satu-satunya cara agar manusia tetap mampu mengevaluasi AI adalah dengan tetap memahami proses berpikirnya. Ia menyampaikan hal itu di hadapan forum yang membahas pengembangan sumber daya manusia bidang AI, dan menyoroti perlunya keseimbangan antara penguasaan teknologi dan kapasitas manusia untuk berpikir serta melakukan evaluasi. Visi yang sama juga diangkat di forum lain sebagai kebutuhan investasi pendidikan yang menopang berpikir kritis, bukan hanya investasi perangkat.

Catatan ini masuk edisi hari ini karena Indonesia adalah pasar AI yang tumbuh cepat sekaligus pasar yang sedang membangun fondasi aturannya. Pemerintah saat ini mengejar dua jalur sekaligus: Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional lewat Peraturan Presiden, dan pedoman bersama lintas kementerian untuk pemanfaatan teknologi digital serta kecerdasan artifisial di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Bagi pengembang produk AI lokal, arahnya cukup jelas: nilai jual tidak lagi terletak pada kemampuan menjawab cepat, tetapi pada kemampuan menjelaskan sumber dan proses, karena pembaca dan penggunanya dilatih untuk memeriksa.

Sumber asli

Garuda TVgaruda.tv

Sumber pendukung

Fakta, angka, nama, dan kutipan dalam naskah ini telah dicocokkan dengan sumber-sumber di atas. Naskah ditulis ulang oleh redaksi, bukan salinan. Laporkan kesalahan

Bagikan WhatsApp X LinkedIn Telegram Email

Baca juga