Generasi F (Fabulous)

in Lifestyle

Generasi F (Fabulous)

 

Ibukota sedang dikuasai oleh generasi muda yang senang berbelanja  berbagai label terkenal dari luar negeri untuk menunjang penampilan.  Apa betul?

 

Seperti halnya Sasya seorang remaja di ibukota, ingin merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Layaknya para belia di luar sana, ia ingin helatan tersebut berlangsung spesial. Sedianya Sasya bakal menggelarnya di satu kafe yang sedang jadi topik perbincangan di bilangan bergengsi, Kemang, Jakarta Selatan. Plus, ia menyiapkan gaun nan indah yang dibelinya di butik ternama, dengan harga yang tidak bisa dibilang murah, untuk disandangnya nanti.

Bukan cuma Sasya, tapi banyak remaja lain yang sangat peduli akan gaya belakangan ini. Busana, tas, dan sepatu harus berasal dari rumah mode ternama. Tak tanggung-tanggung, kadang agenda belanja pun mesti dilakukan di luar negeri. Semua itu seolah mutlak diperlukan untuk bersosialiasi. Ya, bak sudah menjadi hal lumrah saja bagi generasi muda sekarang untuk terlihat maksimal dalam tiap kesempatan.

Berhubung fenomena tersebut kian merebak, jekardah lantas bicara dengan tiga wanita berbeda rentang usia demi mengupas seluk beluk tentang generasi milenium yang serba glamor. Well, mari bilang generasi yang satu ini dengan generasi F. Betul, F untuk Fabulous!

 

Untuk Menunjang Penampilan

Masa remaja biasanya dipenuhi dengan aktivitas mencari jati diri. Begitu pula dengan Sasya. Ia juga sedang mencari jati diri. Sudah pasti, Sasya ingin mendapatkan eksistensinya di antara clique-nya.

Sasya memang sangat menyukai berbagai label terkenal dari luar negeri. Bahkan, terkadang uang saku setiap bulan  yang diberikan orangtuanya tidaklah cukup untuk memenuhi kesukaanya itu. Ujung-ujungnya,  ia  kembali meminta kepada sang orangtua bila ia merasa kurang. “Saya sering meminta tambah uang saku yang diberikan. Sebab kurang untuk hobi belanja saya ini,” ucap Sasya sambil tersenyum. Bahkan, ia pun memiliki jadwal berbelanja secara rutin bersama teman-temannya. “Kami semua sangat menyukai Zara, Mango, atau Topshop,” ujar Sasya.

Lantas, bagaimana bila harga item yang diincarnya kelewat mahal? Sasya akan berjuang membujuk sang ibu untuk membelinya. Jadi, ia bakal punya kesempatan untuk meminjamnya nanti. Sasya memang kerap pula menyandang koleksi ibunda, terutama untuk tas-tas lansiran rumah mode ternama yang sangat dikaguminya. Wah!

 

Shopping adalah bagian dari Hidup

Lain lagi ceritanya dengan Dayu. Bukan lagi sekadar hobi, berbelanja sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mahasiswi yang satu ini senantiasa tampil total untuk menunjang penampilannya sehari-hari.

“Tidak ada batasan berbelanja bagi saya dalam sebulan. Bila saya suka, apalagi sampai terbawa mimpi pasti langsung saya beli. Tidak peduli berapa banyak uang yang harus saya keluarkan,” ucap Dayu tersenyum. Tak segan, ia mengaku memiliki kartu kredit yang seringkali over limit. Dayu yang juga berprofesi sebagai model ini lepas kendali kala berbelanja. Walau sudah memiliki penghasilan sendiri tetapi orangtuanya masih memberi uang saku. Dan, itu pun masih sering tak cukup untuk memenuhi keinginannya membeli busana keluaran desainer-desainer favorit. Apalagi yang disebut-sebut sebagai item yang wajib dimiliki di musim ini.

“Saya pernah berbohong kepada orangtua bahwa ada pemotretan di luar kota. Padahal saya pergi ke Singapura untuk berbelanja,” kata Dayu sambil setengah tertawa. Ia melesat  ke negara tetangga itu dengan beberapa temannya yang juga sama-sama hobi belanja. Dayu yang mengidolakan Kate Moss sebagai ikon mode ini mengaku tidak terlalu mengikuti tren terbaru. Ia baru akan menganutnya bila memang sesuai dengan karakternya. “Terkadang lelah juga dengan hobi saya yang menghabiskan banyak uang ini. Saya sudah mulai mencoba untuk menahannya dengan menabung,” ujarnya.

 

Nah, Apa Kata Sosialita?

Mari simak pandangan sosialita baris depan ini soal belanja, belanja, dan belanja!

 

“Shopping is a therapy for me! Bila saya sedang sedih shopping dapat membangkitkan mood saya yang sedang kacau. Setelah selesai berbelanja, biasa-nya perasaan saya ceria kembali. Saya pun senantaisa mengikuti tren mode terkini. Bisa dibilang bahwa saya kencanduan berbelanja!”

 

 

Shopping is for fashion. Berbelanja itu perlu untuk mengikuti tren mode terbaru juga untuk keperluan pribadi. Dan, berbelanja memang mutlak dibutuhkan untuk membeli busana yang mebuat Anda terlihat eksis di acara tertentu. Namun, saya tidak akan menganggap shopping itu adalah hobi.”

writter  kuma san

Leave a Reply